Internasional

Washington: Klaim Akuisisi Minyak Venezuela Pasca-Operasi Penggulingan Maduro di Amerika Latin

Dalam pidato kenegaraan yang disampaikan di hadapan Kongres pada Rabu, 25 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti pencapaian pemerintahannya, secara spesifik mengklaim era keemasan bagi AS. Fokus utama pidato tersebut mencakup klaim keberhasilan kebijakan luar negeri di Amerika Latin dan peninjauan ulang strategi ekonomi global, meskipun di tengah tekanan domestik dan putusan hukum yang menantang.

Klaim Kebijakan Luar Negeri dan Dinamika Energi Regional

Presiden Trump secara eksplisit menyoroti hasil dari kebijakan Washington di Venezuela, mengeklaim bahwa Amerika Serikat telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari negara tersebut. Klaim ini menyusul operasi yang mengarah pada penggulingan pemimpin sosialis Nicolas Maduro pada Januari lalu, yang dituduh melakukan perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya oleh Washington. Pasca-operasi tersebut, Amerika Serikat melonggarkan sanksi minyak terhadap Venezuela, sebuah langkah yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pasokan energi.

Trump juga menyatakan bahwa produksi minyak domestik AS telah meningkat lebih dari 600.000 barel per hari. Kebijakan ini mencerminkan upaya Washington untuk memperkuat kedaulatan energi dan memproyeksikan pengaruh geopolitik di kawasan Amerika Latin, mengubah dinamika pasokan energi global.

Tinjauan Kebijakan Ekonomi dan Respon Global

Di sisi ekonomi, pemerintahan Trump menghadapi tantangan signifikan terkait kebijakan perdagangan. Mahkamah Agung AS baru-baru ini membatalkan penggunaan tarif perdagangan paksa yang diberlakukan terhadap berbagai negara di seluruh dunia. Putusan ini berpotensi memengaruhi strategi negosiasi perdagangan Washington dan hubungan ekonominya dengan mitra dagang internasional, menandai peninjauan ulang terhadap pendekatan unilateral dalam kebijakan ekonomi global.

Tantangan Domestik dan Proyeksi Politik

Secara internal, Presiden Trump menyerukan Kongres untuk mengesahkan undang-undang yang memberlakukan persyaratan identitas tambahan bagi pemilih, sebuah langkah yang dikritik oleh penentangnya karena berpotensi menghalangi sejumlah besar pemilih sah. Perdebatan mengenai hak pilih ini berlangsung di tengah upaya Partai Republik untuk mempertahankan mayoritas tipis mereka di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat menjelang pemilihan mendatang.

Jajak pendapat Washington Post-ABC News-Ipsos yang dirilis pada Minggu, 22 Februari 2026, menunjukkan tingkat persetujuan Trump hanya 39 persen. Angka ini mencerminkan tantangan domestik yang dihadapi pemerintahannya, dengan hanya 41 persen menyetujui penanganan ekonomi secara keseluruhan dan 32 persen menyetujui penanganan inflasi. Dinamika politik internal ini dapat memengaruhi kapasitas pemerintah untuk mengimplementasikan agenda kebijakan luar negeri dan pertahanan secara efektif.

Analisis mengenai klaim kebijakan luar negeri dan dinamika politik domestik ini didasarkan pada pernyataan resmi Gedung Putih, laporan media internasional seperti Le Monde, dan hasil jajak pendapat publik yang dirilis pada Februari 2026.