Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, menegaskan bahwa peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah tidak dimaksudkan sebagai langkah awal untuk menyerang Iran. Rubio menyatakan pengerahan armada tempur besar tersebut dilakukan guna melindungi personel dan aset AS dari potensi ancaman di kawasan strategis tersebut.
“Kami ditempatkan di wilayah ini karena satu alasan sederhana, yaitu kami memahami bahwa mungkin ada ancaman terhadap pasukan kami di wilayah tersebut,” ujar Rubio, sebagaimana dikutip dari Anadolu. Ia menambahkan, Washington ingin memastikan kapasitas pertahanan yang memadai jika situasi darurat muncul, menekankan pentingnya postur deterrence.
Prioritas Diplomasi di Tengah Ketegangan
Ketika disinggung mengenai prosedur konsultasi dengan Kongres sebelum mengambil langkah militer terhadap Iran, Rubio menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump tetap mengedepankan jalur diplomasi dan negosiasi. Namun, ia mengakui bahwa hubungan dengan Teheran bukan persoalan sederhana.
“Kita berurusan dengan orang-orang yang membuat keputusan politik dan geopolitik berdasarkan teologi semata, dan itu adalah hal yang rumit,” ucapnya. “Tidak ada yang pernah berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi kita akan mencoba.” Rubio juga menyebut bahwa utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner saat ini tengah melakukan perjalanan untuk menghadiri sejumlah pertemuan penting di kawasan, mengindikasikan upaya diplomatik yang berkelanjutan.
Kepatuhan Konstitusional dan Kritik Kongres
Rubio menegaskan bahwa pemerintah akan tetap mematuhi hukum AS terkait pelibatan Kongres jika keputusan militer diperlukan. “Tetapi saat ini, kita tidak membicarakan hal itu. Kita sedang membicarakan negosiasi,” katanya. “Presiden telah memperjelas hal itu. Jika itu berubah, akan jelas bagi semua orang, dan tentunya apa pun yang diwajibkan oleh hukum, akan kami lakukan.”
Dalam beberapa bulan terakhir, AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, termasuk mengerahkan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln. Washington juga mengirim kapal induk USS Gerald R Ford di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran. Pada Juni lalu, serangan AS terhadap Iran dilakukan tanpa persetujuan Kongres maupun pemberitahuan kepada para pemimpin Demokrat. Sejumlah anggota parlemen mengkritik langkah tersebut karena dilakukan ketika tidak ada ancaman langsung terhadap AS, memicu perdebatan mengenai otoritas eksekutif dalam penggunaan kekuatan militer.
Analisis mengenai pengerahan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dan laporan media yang dirilis pada Sabtu, 21 Februari 2026.