Klaim Rudal Balistik Antarbenua dan Penilaian Intelijen
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu, 25 Februari 2026, melontarkan klaim bahwa Iran tengah berupaya mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat. Pernyataan ini, disampaikan dalam pidato kenegaraannya, memicu kekhawatiran baru di tengah kebuntuan negosiasi program nuklir Iran dan kehadiran militer AS yang signifikan di Timur Tengah.
Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Trump secara eksplisit menyatakan, “Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri.” Ia menambahkan, “Mereka sedang berupaya membangun rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat.” Klaim ini mengindikasikan potensi ancaman strategis yang signifikan terhadap keamanan nasional AS dan sekutunya.
Namun, pernyataan tersebut melampaui penilaian yang dirilis oleh Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) pada tahun 2025. Saat itu, DIA memproyeksikan bahwa Iran baru akan memiliki potensi untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang layak secara militer pada tahun 2035, dengan catatan bahwa Teheran harus secara aktif mengejar kemampuan tersebut.
Berdasarkan data dari Layanan Penelitian Kongres AS, kapabilitas rudal Iran saat ini terbatas pada rudal balistik jarak pendek dan menengah dengan jangkauan operasional maksimal sekitar 3.000 kilometer. Jarak geografis antara daratan utama Amerika Serikat dan wilayah barat Iran sendiri mencapai lebih dari 9.600 kilometer (6.000 mil), menunjukkan kesenjangan signifikan antara klaim dan kapabilitas yang terverifikasi.
Kebuntuan Negosiasi Nuklir dan Proyeksi Kekuatan AS
Klaim Presiden Trump muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran. Kedua belah pihak telah menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan baru, menggantikan perjanjian yang dibatalkan oleh pemerintahan Trump sebelumnya.
Amerika Serikat secara konsisten menuntut penghentian pengayaan uranium oleh Iran, penghentian program rudal balistiknya, serta penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Dua tuntutan terakhir secara tegas ditolak oleh Iran, menciptakan hambatan signifikan dalam proses diplomatik.
Sebagai bentuk proyeksi kekuatan dan deterrence, Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer substansial ke Timur Tengah. Penempatan ini mencakup dua kapal induk, lebih dari selusin kapal perang lainnya, sejumlah besar pesawat tempur, dan aset strategis lainnya. Presiden Trump juga berulang kali mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan yang memuaskan.
Putaran pembicaraan selanjutnya antara AS dan Iran dijadwalkan akan dilanjutkan pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa, Swiss, dengan prospek yang masih belum pasti di tengah ketegangan yang meningkat.
Analisis mengenai kapabilitas rudal Iran dan penilaian intelijen ini didasarkan pada laporan publik Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) tahun 2025 dan data dari Layanan Penelitian Kongres AS. Pernyataan Presiden Trump dikutip dari pidato kenegaraan resmi pada 24 Februari 2026.