WASHINGTON – Sejumlah penasihat senior Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengusulkan agar Israel melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran. Strategi ini dinilai dapat menciptakan justifikasi politik yang lebih kuat bagi Washington untuk meluncurkan aksi militer, sekaligus menggalang dukungan publik domestik.
Laporan yang dirilis Politico pada Rabu (25/2/2026), mengutip dua sumber yang mengetahui diskusi internal, menyebutkan bahwa serangan sepihak oleh Israel akan mempermudah posisi AS di mata publik. Pendekatan ini bertujuan untuk menempatkan AS sebagai pihak yang merespons agresi, bukan sebagai inisiator konflik.
Motivasi Strategis di Balik Usulan Serangan Pendahuluan
Sumber Politico menjelaskan, “Ada pemikiran di dalam dan di sekitar pemerintahan bahwa politik akan jauh lebih baik jika pihak Israel bertindak lebih dulu dan sendirian, kemudian Iran membalas serangan terhadap kita, sehingga memberi kita alasan lebih kuat untuk mengambil tindakan.” Asumsi ini didasarkan pada keyakinan bahwa warga Amerika akan lebih menerima intervensi militer jika AS atau sekutunya diserang terlebih dahulu.
Usulan ini mencerminkan perhitungan strategis untuk mengelola persepsi publik dan legitimasi tindakan militer di tengah potensi eskalasi konflik di kawasan Teluk. Konsep pre-emptive strike oleh Israel diharapkan dapat mengubah dinamika narasi global.
Risiko Geopolitik dan Pertimbangan Militer AS
Meskipun rencana serangan terus digodok, administrasi Trump menghadapi berbagai pertimbangan matang terkait dampak strategis. Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi menipisnya stok amunisi AS, yang dikhawatirkan dapat membuka celah bagi Tiongkok untuk mengambil tindakan terhadap Taiwan, mengganggu keseimbangan kekuatan di Pasifik.
Selain itu, potensi jatuhnya korban jiwa dari personel militer Amerika menjadi perhatian serius, sebagaimana dilansir Jerusalem Post. Seorang sumber anonim menyatakan, “Jika kita berbicara tentang serangan berskala pergantian rezim, Iran kemungkinan besar akan membalas dengan semua yang mereka miliki.”
Ancaman Balasan Iran dan Kerentanan Aset AS
Sumber tersebut menambahkan bahwa AS memiliki banyak aset strategis di kawasan yang berisiko menjadi sasaran empuk. “Kita memiliki banyak aset di kawasan, dan setiap aset tersebut adalah target potensial, dan mereka tidak berada di bawah perlindungan Iron Dome. Jadi, ada kemungkinan tinggi jatuhnya korban dari Amerika, dan itu membawa risiko politik yang besar,” ujarnya. Ini menyoroti kerentanan instalasi militer AS terhadap serangan balasan Iran yang mungkin tidak dapat diintersepsi oleh sistem pertahanan rudal seperti Iron Dome.
Jalur Diplomasi di Tengah Ketegangan Regional
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, jalur diplomasi dijadwalkan akan menempuh babak baru. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu dengan utusan Presiden Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026).
Pertemuan ini digambarkan sebagai momen menentukan untuk menilai apakah masih ada peluang kesepakatan antara Teheran dan Washington, atau apakah prospek serangan militer AS akan meningkat secara signifikan. Diskusi ini juga rencananya akan dihadiri oleh Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi, menunjukkan upaya mediasi internasional.
Sumber yang mengetahui kontak antara Iran dan Washington mengungkapkan kepada Jerusalem Post bahwa, meskipun peluang kesepakatan sangat tipis, kemungkinan tersebut belum sepenuhnya tertutup, mengindikasikan bahwa semua opsi, baik militer maupun diplomatik, masih dipertimbangkan.
Analisis mengenai usulan strategi ini didasarkan pada laporan investigasi Politico dan Jerusalem Post yang mengutip sumber-sumber internal pemerintahan AS dan pihak yang mengetahui kontak diplomatik, dirilis pada Februari 2026.