Internasional

Xi Jinping: Copot Sembilan Jenderal Elite PLA, Perkuat Kontrol atas Pasukan Roket dan Pengembangan Alutsista

Beijing, Jumat, 27 Februari 2026 – Presiden Xi Jinping telah melancarkan pembersihan besar-besaran di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), mencopot sembilan perwira tinggi dari jabatan legislatif mereka. Langkah drastis ini, yang secara politis setara dengan pengakhiran karier, menyasar unit-unit strategis seperti Pasukan Roket dan Departemen Pengembangan Peralatan, mengindikasikan konsolidasi kekuasaan yang mendalam menjelang pertemuan politik tahunan National People Congress (NPC).

Pembersihan Elit Militer dan Latar Belakangnya

Guncangan di koridor kekuasaan Beijing ini merambat hingga ke barak-barak militer paling elite di China. Penghapusan nama-nama perwira tinggi dari daftar perwakilan legislatif menjadi konfirmasi faktual bahwa badai politik sedang menerjang divisi-divisi paling strategis di dalam militer China, terutama mereka yang memegang kunci gudang senjata nuklir dan teknologi masa depan China. Ini merupakan kelanjutan dari drama hilangnya beberapa anggota Komisi Militer Pusat (CMC) beberapa waktu lalu, yang diduga kuat sedang menjalani proses interogasi.

Eksodus paksa para jenderal ini mencakup lima jenderal penuh, seorang letnan jenderal, dan tiga mayor jenderal. Mayoritas berasal dari Pasukan Roket (Rocket Force), unit kebanggaan Xi yang menjadi ujung tombak ambisi China di Pasifik, dan Departemen Pengembangan Peralatan, yang mengelola anggaran triliunan yuan untuk riset alutsista. Jatuhnya para perwira dari dua sektor ini menunjukkan adanya borok yang cukup parah di pusat inovasi militer Beijing.

Nama-nama seperti Li Qiaoming, yang sebelumnya diprediksi akan bersinar di puncak CMC, kini lenyap dari radar publik. Kekosongan ini mulai diisi oleh wajah-wajah baru yang lebih muda dan dikenal karena loyalitas politisnya yang tak bercela. Laksamana Dong Jun secara mengejutkan diangkat menjadi Menteri Pertahanan setelah pendahulunya menghilang secara misterius, sementara Jenderal Hu Zhongming kini memegang komando Angkatan Laut. Penunjukan figur-figur ini menunjukkan bahwa Xi sedang melakukan restrukturisasi total pada struktur komando.

Motif di Balik Konsolidasi Kekuasaan Xi

Alasan konvensional di balik pembersihan ini adalah korupsi. Namun, analisis intelijen alternatif mulai muncul, mengindikasikan adanya temuan sabotase teknis yang memalukan. Kabar burung menyebutkan bahwa rudal-rudal balistik yang seharusnya siap luncur ditemukan dalam kondisi cacat teknis karena tangki bahan bakarnya diisi air, bukan bahan bakar cair. Praktik lancung dalam rantai pasok ini bukan hanya pencurian uang, tetapi dianggap sebagai sabotase nasional.

Lebih jauh lagi, ada indikasi terjadinya pembangkangan intelektual. Beberapa jenderal senior disinyalir mulai mempertanyakan realisme dari garis waktu modernisasi militer pada 2027 yang ditetapkan Xi. Mereka mungkin berpendapat bahwa kesenjangan antara kemampuan nyata di lapangan dan tuntutan politik terlalu lebar. Dalam perspektif Xi Jinping, keraguan semacam ini adalah bentuk embrional dari benih-benih pemberontakan. Xi membutuhkan jenderal yang siap mengeksekusi perintah tanpa ragu sedikit pun, bukan hanya pandai menghitung risiko.

Pembersihan ini juga dipicu oleh kekhawatiran akan kebocoran rahasia negara, dengan munculnya kecurigaan bahwa lingkaran dalam militer telah tersusupi oleh kepentingan luar. Sebagai respons, Xi kini mempromosikan para perwira dari latar belakang yang lebih