Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka menyatakan harapan besar terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik dengan Rusia. Namun, pernyataan tersebut diiringi kegelisahan mendalam terkait kedekatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menurut Zelensky, terkadang terasa menyakitkan.
Dinamika Diplomatik dan Gencatan Senjata
Dalam wawancara yang disiarkan melalui kanal YouTube program Piers Morgan Uncensored pada Rabu, 18 Februari 2026, Zelensky menegaskan keyakinannya terhadap niat Trump. “Saya percaya kepadanya. Dia benar-benar ingin mengakhiri perang ini, dan saya percaya bahwa dia benar-benar bisa mengakhiri perang ini,” ujar Zelensky.
Meski demikian, Zelensky mengaku tidak memiliki gambaran utuh mengenai relasi pribadi antara Trump dan Putin. Ia merasa hubungan keduanya memiliki dimensi yang tidak sepenuhnya ia pahami, yang terkadang membuat sikap Trump terhadap Putin terasa “lebih baik daripada yang layak diterima Putin.”
Sejak kembali menjabat untuk periode kedua, Presiden Trump dilaporkan aktif berkomunikasi langsung dengan Presiden Putin. Upaya ini mencakup beberapa pembicaraan telepon dan pertemuan tatap muka di Alaska pada Oktober 2025, meskipun belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.
Inisiatif diplomatik tersebut sempat membuahkan gencatan senjata selama satu pekan pada awal tahun 2026. Namun, laporan intelijen mengindikasikan bahwa Rusia diduga melanggar kesepakatan tersebut hanya beberapa hari setelah diberlakukan, termasuk dengan melancarkan serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Ukraina di tengah suhu musim dingin yang membekukan. Di sisi lain, Presiden Trump menyatakan bahwa Putin “menepati janjinya” dan tidak melanggar kesepakatan yang telah dibuat.
Situasi Medan Perang dan Posisi Kyiv
Menjelang empat tahun sejak invasi Rusia dimulai, Zelensky menggambarkan kondisi psikologis warga Ukraina yang semakin letih menghadapi konflik berkepanjangan. “Orang-orang lelah, ya, orang-orang ingin mengakhiri tragedi ini… mengakhiri perang ini, secepat mungkin tentu saja, tetapi dengan cara yang benar tanpa kehilangan martabat dengan cara apa pun,” katanya.
Zelensky juga mengumumkan bahwa putaran negosiasi trilateral berikutnya akan kembali digelar di Swiss, lokasi yang dianggap penting bagi Kyiv. “Jika perang ini terjadi di Eropa, orang-orang Eropa harus merasakan bahwa ini adalah agresi terhadap kami dan terhadap Eropa. Itulah sebabnya negosiasi damai harus dilakukan di Eropa,” tegasnya.
Perbedaan tajam masih muncul dalam isu pembagian wilayah di Ukraina timur, khususnya di Donbas. “Kami bahkan tidak memiliki pandangan yang sama secara trilateral – kami memiliki tiga pandangan berbeda – tentang masalah wilayah,” ungkap Zelensky. Ia menolak kemungkinan penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas secara sepihak, menegaskan bahwa hal tersebut tidak adil dan keberadaan pasukan Ukraina di sana merupakan bagian dari jaminan keamanan untuk mencegah potensi invasi Rusia di masa depan. Moskwa, menurutnya, mendorong agar Ukraina meninggalkan kota-kota yang telah diperkuat pertahanannya di kawasan tersebut.
Mengenai “garis merah” Putin, yakni penolakan terhadap keanggotaan Ukraina di NATO dan kehadiran pasukan NATO di wilayahnya, Zelensky menilai sikap tersebut berkaitan dengan ambisi Rusia untuk kembali menyerang. “Mereka berpikir bahwa mereka akan datang lagi,” ujarnya merujuk pada Kremlin.
Zelensky mengakui Ukraina mengalami “musim dingin yang sulit dan mengerikan” akibat serangan terhadap infrastruktur energi, yang menyebabkan warga sipil kehilangan listrik di tengah suhu beku. Namun, ia menegaskan bahwa Rusia tidak mencatatkan kemajuan signifikan di garis depan pertempuran. “Tidak ada langkah yang berhasil di medan perang,” katanya mengenai operasi militer Rusia selama musim dingin. Zelensky juga mengklaim Rusia kehilangan hingga 35.000 tentara setiap bulan akibat tewas atau terluka.
Analisis mengenai pernyataan Presiden Zelensky ini didasarkan pada wawancara resmi dan laporan media terverifikasi yang dirilis pada Februari 2026.