Militer.or.id – Palestina Akan Abaikan Kunjungan Wapres AS Terkait Yerusalem.

Unjuk Rasa di Kota Ramallah menentang keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. (Hamas Movement).

Kairo/Gaza, Jakartagreater.com – Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak akan menemui Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence pada bulan ini untuk menentang keputusan pengakuan Washington atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kata menteri luar negeri Palestina pada Sabtu 9 Desember 2017.

Kekerasan terjadi selama 3 hari belakangan di Gaza akibat keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu, yang membalik politik luar negeri pendahulunya terhadap Timur Tengah. Pada Sabtu 9 Desember 2017, serangan udara Israel menewaskan 2 orang bersenjata Palestina setelah kelompok keras menembakkan sejumlah roket ke permukiman Israel sehari sebelumnya.

Pengakuan Trump terkait kedudukan Yerusalem itu memicu kemarahan dunia Arab sekaligus mengecewakan sekutu Barat-nya, yang menyatakan keputusan tersebut menghancurkan upaya perdamaian dan mengancam menciptakan kekerasan baru di Timur Tengah. Pada Sabtu 9 Desember 2017 malam, Menlu negara Timur Tengah mendesak Amerika Serikat membatalkan pengakuannya itu.

Liga Arab, dalam pernyataan tertulis seusai menggelar pertemuan darurat di Kairo, menyebut keputusan Trump tersebut “pelanggaran berbahaya terhadap hukum internasional”. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian bereaksi atas kritik tersebut pada Minggu 10 Desember 2017, sebelum bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris.

“Saya mendengar (dari negara-negara Eropa) suara kecaman terhadap keputusan bersejarah Presiden Trump, namun saya tidak mendengar kecaman terhadap penembakan roket yang menghujani Israel (yang terjadi usai pengakuan tersebut),” kata Netanyahu. Israel bersikukuh semua wilayah Yerusalem adalah bagian dari ibu kota mereka.

Sementara Palestina menuntut Yerusalem Timur menjadi ibu kota bagi negara Palestina merdeka di masa mendatang. Sebagian besar negara mengakui Yerusalem Timur, yang dianeksasi oleh Israel dalam perang 1967, sebagai wilayah jajahan sehingga statusnya harus ditentukan melalui perundingan antara Israel dengan Palestina.

Pemerintahan Trump sendiri mengaku masih berkomitmen terhadap perundingan damai Israel dengan Palestina, bahwa Yerusalem akan menjadi ibu kota Palestina dan netral terhadap penetapan batas kota. Dalam menanggapi keadaan itu, Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki mengatakan akan mencari sponsor perundingan baru untuk menggantikan Amerika Serikat.

Palestina juga akan mengupayakan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk keputusan Trump. “Kami akan mencari mediator baru dari negara-negara Arab dan komunitas internasional,” ujar Maliki kepada sejumlah wartawan sebelum pertemuan Liga Arab di Kairo.

Sumber dari kantor kepresidenan Turki mengatakan bahwa Presiden Tayyip Edogan dan Macron akan berupaya membujuk Amerika Serikat agar mempertimbangkan kembali keputusan mereka. Di sisi lain, Wapres Amerika Serikat Mike Pence juga memperoleh penolakan dari Gereja Koptik di Mesir. Sebelum mendapatkan penolakan itu, Mike Pence dijadwalkan bertemu dengan Abbas pada 19 Desember 2017.

Sementara itu, di Gaza, sejumlah pasukan tempur kelompok perlawanan menembakkan sedikitnya 3 roket dengan sasaran kota kecil Israel pada Jumat 8 Desember 2017 malam. Israel kemudian membalas dengan menyerang sebuah tempat penyimpanan senjata dari udara.

Hamas, yang menguasai Gaza, membenarkan tewasnya 2 orang dari kelompoknya akibat serangan udara Israel. Hamas saat ini mendesak warga Palestina untuk terus melawan pasukan Israel. Pada Sabtu 9 Desember 2017, demonstrasi dari pihak Palestina mulai mereda dibanding dua hari sebelumnya. Sekitar 60 pemuda Palestina melempar bebatuan ke arah para tentara Israel di perbatasan Gaza.

Sedikit-dikitnya, 10 orang terluka akibat tembakan balasan dari Israel, kata kementerian kesehatan setempat. Di Tepi Barat, sejumlah warga Palestina membakar ban dan melempar bebatuan serta bom molotov ke arah tentara Israel, yang kemudian membalas dengan tembakan gas air mata, peluru karet, dan dalam beberapa kasus, tembakan api. Satu orang ditangkap dalam insiden tersebut, kata militer Israel.

Di Yerusalem Timur, sekitar 60 orang berdemonstrasi di dekat tembok kawasan Kota Tua, di mana polisi perbatasan paramiliter yang menaiki kuda mencoba membubarkan pengunjuk rasa dengan gas air mata. Sebanyak 13 orang demonstran ditangkap dan 4 petugas menderita luka ringan oleh lemparan batu, kata juru bicara kepolisian Micky Rosenfeld.

Pada Jumat 8 Desember 2017, ribuan warga Palestina turun ke jalan untuk menyatakan protes dan 2 orang di antara mereka tewas saat bentrok dengan tentara Israel di perbatasan Gaza. Belasan orang juga luka-luka di Tepi Barat. Gelombang unjuk rasa juga muncul di sejumlah negara Muslim. (Antara/Reuters)

Jangan lupa isi form komentar di bawah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here