Dunia memasuki era ketidakpastian strategis menyusul berakhirnya masa berlaku perjanjian kontrol senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia pada Rabu (4/2/2026). Berakhirnya pakta ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad kedua kekuatan nuklir terbesar tersebut beroperasi tanpa batasan hukum internasional yang mengikat.
Implikasi Strategis dan Risiko Eskalasi
Perjanjian New START, yang ditandatangani di Praha pada 2010, merupakan pilar terakhir dalam arsitektur kontrol senjata nuklir bilateral. Tanpa adanya perpanjangan atau kesepakatan pengganti, batasan terhadap jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan kini resmi dicabut. Hal ini memicu kekhawatiran akan munculnya perlombaan senjata baru yang melibatkan modernisasi teknologi hulu ledak dan sistem pengiriman.
Matt Korda, Associate Director Nuclear Information Project di Federation of American Scientists, menekankan bahwa konsekuensi dari kekosongan hukum ini sangat signifikan. “Masing-masing pihak kini memiliki kebebasan untuk memasang ratusan hulu ledak tambahan pada rudal balistik antarbenua dan pesawat pengebom berat mereka,” ujar Korda. Dalam skenario eskalasi maksimal, kapasitas arsenal nuklir kedua negara dapat meningkat hingga dua kali lipat dari level saat ini.
Pergeseran Peta Kekuatan dan Peran China
Meskipun jumlah hulu ledak global telah menurun drastis dari puncaknya yang mencapai 70.000 pada tahun 1986 menjadi sekitar 12.000 pada 2025, tren modernisasi saat ini menunjukkan arah yang berbeda. Berikut adalah perbandingan estimasi dinamika kekuatan nuklir saat ini:
| Negara | Status Arsenal | Tren Strategis |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | Modernisasi Aktif | Peningkatan integrasi teknologi dan presisi |
| Rusia | Modernisasi Aktif | Pengembangan sistem pengiriman hipersonik |
| China | Ekspansi Cepat | Penggandaan hulu ledak dalam satu dekade terakhir |
Washington di bawah kepemimpinan Donald Trump telah memberikan sinyalemen untuk melibatkan China dalam setiap kesepakatan kontrol senjata di masa depan. Trump menyatakan bahwa kesepakatan baru harus mencakup seluruh kekuatan nuklir utama guna menjaga stabilitas global dan menghindari skenario perlombaan senjata trilateral yang tidak terkendali.
Kebuntuan Diplomatik dan Hilangnya Transparansi
Hingga tenggat waktu berakhir, belum ada kesepakatan konkret antara Washington dan Moskwa. Pihak Rusia mengklaim telah mengajukan usulan perpanjangan batasan perjanjian, namun belum menerima respons definitif dari pihak AS. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya mekanisme verifikasi lapangan dan pertukaran data yang selama ini menjadi instrumen transparansi serta pembangun kepercayaan (confidence-building measures) antarnegara.
Para analis pertahanan memperingatkan bahwa tanpa New START, dunia kehilangan alat ukur objektif untuk memantau kekuatan nuklir lawan. Hal ini berpotensi memicu salah kalkulasi strategis yang dapat berujung pada konflik terbuka. Analisis mengenai berakhirnya pakta nuklir ini didasarkan pada laporan resmi Federation of American Scientists dan pernyataan diplomatik dari Departemen Luar Negeri AS serta Kementerian Luar Negeri Rusia yang dirilis hingga Februari 2026.