Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan komitmen organisasi untuk melanjutkan konfrontasi militer skala penuh terhadap Israel, menyebut situasi saat ini sebagai agresi eksistensial. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya intensitas serangan udara Israel di wilayah utara dan selatan Sungai Litani yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas pada awal Februari 2026.
Posisi Strategis dan Penolakan Demiliterisasi
Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan tunduk pada tekanan internasional untuk melucuti senjata. Menurutnya, tuntutan demiliterisasi merupakan upaya sistematis untuk melenyapkan pengaruh politik dan militer kelompok tersebut di Lebanon. Ia menekankan bahwa posisi Hizbullah saat ini sepenuhnya bersifat defensif guna melindungi kedaulatan teritorial dari apa yang ia sebut sebagai pendudukan tanah air.
Dalam pidatonya yang menandai peringatan ke-33 Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Islam, Qassem mendesak para pejabat pemerintah Lebanon untuk tetap solid dan tidak memberikan tekanan internal terhadap basis pendukung perlawanan. Ia berargumen bahwa pengorbanan yang telah dilakukan oleh rakyat Lebanon harus dijawab dengan keteguhan posisi diplomatik dan militer.
Analisis Geopolitik dan Keterlibatan Barat
Secara analitis, Qassem mengaitkan dukungan negara-negara Barat terhadap doktrin keamanan Israel dengan ambisi geopolitik yang lebih luas, yakni pembentukan Israel Raya. Hizbullah memandang narasi keamanan yang diusung blok Barat bukan sekadar upaya perlindungan diri, melainkan legitimasi atas ekspansi wilayah yang mengancam stabilitas kedaulatan negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi Militer dan Dampak Operasional
Di lapangan, intensitas kontak senjata terus menunjukkan tren peningkatan. Pada Senin, 2 Februari 2026, serangan udara Israel menyasar titik-titik strategis di sekitar Sungai Litani. Berikut adalah ringkasan dampak operasional dari insiden tersebut:
| Lokasi Serangan | Dampak Dilaporkan | Klaim Israel | Klaim Hizbullah |
| Utara Sungai Litani | 1 Tewas, 8 Luka-luka | Infrastruktur Militer | Pemukiman Sipil |
| Selatan Sungai Litani | Kerusakan Bangunan | Target Taktis Hizbullah | Infrastruktur Sipil |
Hizbullah menuduh militer Israel sengaja menyasar infrastruktur sipil dan permukiman warga akibat kegagalan dalam menetralisir unit-unit tempur mereka di garis depan. Sebaliknya, otoritas pertahanan Israel secara konsisten menyatakan bahwa operasi mereka hanya ditujukan pada aset militer yang digunakan untuk meluncurkan serangan ke wilayah kedaulatan Israel.
Analisis mengenai dinamika militer di perbatasan Lebanon-Israel ini disusun berdasarkan pernyataan resmi Sekretariat Jenderal Hizbullah dan laporan operasional lapangan yang dirilis pada pekan pertama Februari 2026.